Masa Cinta dan Masa Manusia
Senin, 07 Februari 2022
Tambah Komentar
Musim sering menjadi biang kerok topeng manusia, sementara hujan dan panas selalu diasumsikan menjadi dalang perubahan cuaca.
Gemuruh kadang menjadi kambing hitam kerusakan benda-benda akibat terjangan beliung nya, akan tetapi angin bersanding berhembus menghantam himpitan reruntuhan berbahan ringan.
Mengelak atas kejadian alam bukan fokus menjadi hamba Tuhan, melainkan menyadari bahwa bumi alam ini memiliki Tuan. Dia yang menggerakkan, dia yang menggeser, dia juga mengangkat dan menurunkan serta dia pula mampu menghanyutkan dengan hanya satu kata Kun Fayakun-Nya.
Tentu, setiap fenomena selalu kembali ke titah awal kejadian bermula, entah tertanggal oleh hitungan ataupun tetiba Bulan tanggal atau hari berdasarkan ketetapan informasi negara.
Tahun Masehi menjadi simbol kalender penanggalan seluruh ummat muslim, menjadi acuan setiap kegiatan dalam berkehidupan. Setiap masa memiliki momentum bersejarah, memiliki waktu spesial juga mempunyai menit yang diyakini sakral. Pada keyakinan berbeda diyakini Tahun Hijriah adalah kekuatan magic kaum agamis bahkan era animis dalam menentukan posisi bintang, letak bulan hingga peredaran matahari.
Maka masa Hujan dan Panas-pun dapat di prediksi berdasarkan perhitungan baku melalui history panjang peradaban yang kemudian menjadi adat istiadat serta suatu waktu dapat berubah sebagai hukum sosial hingga sampai pada referensi nenek moyang yang secara turun temurun sejak zaman sebelum peradaban.
Di tempat berbeda sebagian besar memiliki masa-masa tertentu dengan pandangan teologis yang mengacu pada geografis keadaan dan kultur setempat. Misalnya merujuk pada kalender adat, yang secara data tentu jauh lebih besar jumlah bulan dan harinya daripada setahun dalam Masehi berjumlah 12 Bulan, demikian juga halnya kalender Hijriyah.
Pergolakan ini terus menjadi tradisi tanpa mengesampingkan nilai sosial masyarakat, tetap seayun selangkah bersama mengedepankan solidaritas. Maka kemudian tidak layak membuat keonaran atas nama agama, suku dan lainnya. Membenarkan pendapat kelompok sendiri tetapi menelantarkan keyakinan orang lain dengan mendikte ajaran yang dianutnya lebih benar daripada-nya.
Bukankah Indonesia dijuluki sebagai negara yang multikultural? Negara yang memiliki ribuan suku/etnis dengan keunikannya masing-masing. Sementara itu menggunakan media untuk memprovokasi ummat adalah kebiadaban berantai yang membekas menjadi jejak digital virtual sulit hilang namun yang kemudian mengikis sisi sosial cinta dan kasih sayang antar sesama.
Keharmonisan akan di pupuk atas dasar kenyamanan serta kondisi keadaan. Maka menyatukan seluruh keributan cukup dengan hanya menanamkan nilai nilai kasih sayang. Menyatukan yang dekat, mendekatkan yang terpisah, memilih tanpa memilah siapa, dan mengedepankan humanisme daripada egosentrisme melalui lembah-lembah keagungan yang mengandung produktivitas guna mensejahterakan komunitas yang bersimpangan jalan dengan kembali bersatu adalah pokok tujuan.
Belum ada Komentar untuk "Masa Cinta dan Masa Manusia"
Posting Komentar