Pujian Kawula, Tepisan Tuan
Rabu, 23 Februari 2022
Tambah Komentar
Kali ini pertama dengan jeli dan lugas mendengar dari penikmat butiran huruf demi huruf yang tanpa diminta mencoreng muka Tuannya. Detik ini sesosok Kawula kira-kira dapat dipanggilnya memiliki frekuensi bersama demikian kiranya jika dibahasakan. Coretan ini diyakini oleh kawula itu Duhai Tuhan, tidak menuntut balik secara hukum raja maupun secara adat kebiasaan antara sesama atau bahkan social society semata.
Beberapa jam berlalu dengan longgar mulutnya mulai mencibir bahkan secara abstraksi merangkum sedemikian luas pena-pena yang bercampur baur dari topik caci hingga puji tersebut, dibahasakannya melalui catatan sederhana berbentuk kalimat santun, manis Bahasa-nya pada pendengaran, lembut Parafrase-Nya dalam untaian, lihai ber-Hiperbola jika di sangkal untuk dihentikan seketika. Malam ini tersudut dan terpojok rasanya pada kordinat utama dengan konsep layak disebut merupakan Pujian.
Hamba ini di puji oleh Kawula-Mu duhai Tuhan! Namun berusaha tetap selalu mengingatkan mengintrospeksi untuk bercermin diri, yang rasanya semakin rendah dan semakin melandai ke tanah bagian lapisan terbawah. Merasa terpingkal-pingkal jika di hadapkan dengan audiensi langsung di muka.
Pujian itu dapat menjadi dua mata bambu berhadapan yang kadang di cari oleh penikmat seni dan atau kolektor untuk di lelang sebagai dalih pesugihan. Seni disini diartikan sebagai keindahan dan kebebasan berekspresi. Sementara akronim dari kolektor dapat diartikan sebagai keuntungan yang menguntungkan orang kedua dan orang ketiga, kiranya dapat disederhanakan sebagai sebuah pujian yang bisa saja merupakan kekaguman dari hati dan nilai mendalam dari esensi pujian serta dapat pula diartikan sebagai tampilan iklan sukarela walaupun sebatas pengetahuan hamba sebelah kiri dan bagian sebelah kanannya.
"Nampaknya Anda punya potensi Tuan!? Memiliki bakat merangkai kalimat sedemikian. Satu kata saja Tuan dapat jadikan ber-paragraph jumlah dari satu landasan teori dasar.! Bagaimana tuan dapat bereksplorasi dengan konsep seperti itu? Saya rasa Tuan sudah menghayati segala aspek yang ada. Tuan sanggup menulis hanya sekali duduk mengendalikan jempol gede bergaris nan berkuku itu. Lanjutkan bakatmu!
Ciptakan cerita cerita baru!
Gagas segalanya yang belum novelis terlebih dahulu temukan. Yakinkan dirimu pada pokok tujuan dari pena sejati itu, sebagaimana nama pena Tuan yaitu Pena Deddet (Sunyi namun Menerobos Gemerlap tanpa mengandalkan cahaya". Puji-Nya.
Semakin ingin memuji antar sesama hamba, maka semakin gemetar dan berdendang tubuh tegar terasa menyelimuti kubangan dahsyat jiwa.
"Hamba adalah tetesan tinta dari jarum jahit benang kaos putih tipis tanpa sutra terlipat ganjal lemari bawah, bahkan benang berharga sekalipun. Hamba semakin mencoret, akan semakin menggigil tidak berdaya. Tidak berdaya karena di puji ataupun tidak berdaya akibat usia yang kian menua, namun tetap menolak disebut lansia. Tulisan kalimat yang digunakannya memuji telah benar-benar dilupa dan tidak ingat juga, bahwa ternyata pernah diwaktu masa silam hamba menitip tulisan dengan ungkapan serupa dari beberapa kata itu.
Hamba merasakan tamparan. Tamparan yang tidak semua menggunakan tangan. Tamparan yang tanpa skat/hijab mengubah raut wajah menjadi memar dan memerah membiru, layaknya seseorang yang tidak ingin bersalaman tetapi dipaksa oleh alam berpapasan di satu jalur gang yang tanpa cabang, namun dengan terpaksa menyentuhkan senyum lepas diiringi keharuan rasa menyimpan kesan penuh cerita.
Sebab ketelitian dan crosscek kawulamu itu diambil dalam setiap bait bait kata dan kalimat pada deretan narasi yang menyerupai pujangga, mampu ia rangkai melalui pujian-pujian bagaikan puisi legendaris Chairil Anwar". Tuturnya sesenggukan meredam jawab dalam hati-nya.
Sesosok hambamu Tuhan, yang tidak kuasa melontarkan caci verbalitas guna membendung pujian mulut kawula sang Tuan. Professionalismenya tetap menjadikan kuping telinga nya di posisi pendengar dan anggukkan kepala sebagai isyarat persetujuan sapa agar komunikasi tidak monolog berkepanjangan.
sang kawula kemudian melanjutkan.
"Tuan.! Oh tuan.!!! Ajarkan aku bagaimana memuji seorang Ayang tanpa lisan. Sebab lisan akan sulit melakukan editing, review, serta repost, jika telah terlanjur terlontar menyembur. Bagilah triks/cara itu tuan!
Cara dari potensi menulis yang tuan kuasai atau secuil saja dari sebagian pemahaman engkau. Aku yakin, jika nanti aku memuji ataupun mencaci sosok orang ataupun Ayang dapat dengan tenang ku persembahkan melalui catatan-catatan, yang bisa saja mengandung majaz/makna mendalam tanpa difahami, mengandung puja dan puji, sebab dengan tulisanlah aku dapat melakukan perbaikan jika kebablasan keluar yang tidak baik dilontarkan.
Aku pun dapat men-Delete seketika apabila ada komplain netizen bahkan rumput hijau tetangga.
Aku pun juga dapat menambahkan 'kata' jika ingin menyempurnakan dan dirasa kurang diterima oleh akal pikiran.
Bukankah demikian itu lebih indah Tuan!? " Sambung Kawula.
Suara nya kian lama terdengar memuji semakin menjauh melewati jendela hingga berseliweran ke pelataran halaman. Kendati demikan dapat disamarkan oleh alunan gamelan budaya iringan kelenang sasak berbahan dasar besi kuningan.
"Begini Saja, Duhai Kawula-ku yang budiman cerdik bersahaja!
Seluruh makhluk itu memiliki potensi dan bakat terpendam di setiap pekerjaan dan profesi tertentu, hanya saja ada yang benar-benar konsisten menyelami kedasar lautan hingga dikategorikan layak disebut jagoan, dan adapula yang hanya digunakan sebagai kebutuhan sesaat, artinya sekedar singgah sejenak untuk lenyap kemudian.
Maka jika ingin memuji sesuatu berjenis apapun, dibutuhkan konsistensi melakukan aktivitas produktif berdasarkan; kebiasaan, kesenangan dan kesempatan pada sela-sela kesibukan.
Pada dasarnya setiap manusia butuh pujian, implementasinya memerlukan pengakuan baik singular maupun plural dari profesi rakyat hingga berkedudukan sebagai pejabat.
Tentunya, pengakuan yang tepat bijaksana ialah didasarkan atas kewajaran tanpa dilebih-lebihkan otentikasi faktual hingga melupakan adat kebiasaan".
#MenuliskuSebabMerdeka
Belum ada Komentar untuk "Pujian Kawula, Tepisan Tuan"
Posting Komentar