Rasa yang Terasa

Apa yang akan engkau lakukan jika perasaan mu di obrak-abrik dalam kewajaran? Apa jadinya jika defend kekuatan komitmen-mu di coba uji dengan keadaan terutama manusia sadar? Dapatkah engkau meraih lalu mengepal dan merangkul sebelum tertinggal jauh haluan? Berapa lama kau mampu memendam umpatan yang seharusnya tersembur tepat didepan objek langsung? 
Kuat! Tahan yang demikian itu! ??
Tetap bertahan juga!? 
~Luar biasa!!! 
Prok prok prok... Kepakan lima jari menyatu menjadi bilangan sepuluh yang menghasilkan bunyi gempar tetapi prok prok itu akan lemah terdengar walaupun diberikan apresiasi tanpa kalam, seharusnya lebih bertenaga sesuai kekuatan nya namun sayang tidak mampu menghasilkan tarikan energi . 

Senyuman sumringah semestinya lepas tanpa beban, tersisip gigi gigi berjejer ditutup kedua bibir merah merona, namun sayangnya tidak terlihat demikian seketika, hanya tersenyum sejenak saja akan tetapi Ruh-Nya entah berantah kepada siapa. 

Gerakan kaki seharusnya kokoh menyangga badan tegap kekar yang bertahan pada setiap sendi-sendi tulang itu tetapi hanya sebatas ekspektasi secara fisik, tidak dapat di tulis seperti apa "disini" Dalam Analogi Retorika. 

Suara yang semestinya menggelegar lantang terdengar pada setiap gendang telinga insan setia, juga dapat meresap terekam langsung ke alam bawah sadar audiensi sebenarnya sebagaimana dalam kebiasaan-kebiasaan energi kharismatik nya, Nyatanya sebatas beberapa gerakan yang Nyeloteh tanpa makna substantif, artinya bersuara namun tidak tersampaikan. 

Ketidakberdayaan bisa saja lenyap namun berbentuk tapi tidak berjiwa. Ketidakenakan akan terasa jika terjerumus ke lembah tidak guna hanya menjadi pajangan kesenangan perseorangan selepas itu menusuk tanpa perih tapi membekas dan terluka. 

Untuk-Mu yang merasa, untuk-Mu yang hidup jiwa-Nya, untuk-Mu yang menyimpan rasa terhadap-Nya, dan teruntuk Aku yang ditinggalkan raga dalam kebuntuan logika sebuah drama. 

Camkan! Jika Remuk rasa sebab manusia, jangan gegabah memaki berlebih pada-Nya Cukup temui dan duduk bersila sembari secangkir kopi menghangatkan tenggorokan. Bahkan jika terlalu terhimpun perasaan terfokus, jangan manjakan! Carilah lokasi singgah untuk menetralisir luapan. 

Maka atas dasar "Aku dan kamu" adalah penyebab perasaan itu merasuk mendarah daging dengan harapan di kemudian dapat segera di iris menjadi bagian-bagian yang didapatkan banyak orang tidak monoton hanya milik seorang.!
Oh... 
#PenaDeddet





Belum ada Komentar untuk "Rasa yang Terasa"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel