The Power of Ayang', 'Ayang'!!!

Peradaban memang kejam, peradaban memang unik, peradaban itu memang bangsat, peradaban kadang tetap beradab, dan peradaban yang selalu menjawab segala tantangan dan rintangan zaman walmakan. Sama halnya dengan Teknologi informasi yang justru merubah tatanan sosial menjadi tantangan Interpersonal, mengubah kata menjadi sederhana, mengubah paragraf menjadi kalimat dan mengetuk Ummat agar ketergantungan pengetahuan berdasarkan smartphone yang super cepat. Kata dan kalimat baku bisa dijadikan satu kesatuan menjadi beku, beku di mulut, ringan digunakan untuk menyahut dan terbiasa dijadikan sebagai dialog saat saling sambut menyambut. Contohnya, Kata" Best Friend " Di persempit menjadi "Besti". Sama Halnya dengan kata baku dari " Sayang " Diperpendek menjadi " Ayang ". 

Dua kata ini sebagai contoh peradaban perkembangan pergaulan baik yang didapat melalui interaksi sosial media atau yang dikenal dengan virtual content yang kemudian beredar menjamur di tengah generasi muda juga yang dikenal sebagai Generasi Z (Lahir Berkisar dari tahun 2000)an. 

Kembali pada dua imbuhan kata di atas, yang tanpa disadari mengalami kesinambungan mengakar ke seluruh jenjang pendidikan baik penggunaan secara formal maupun non formal. Mengapa demikian? 
Kata "Ayang". Secara kebiasaan merujuk pada dua pasangan sebagai panggilan romantis antar lawan jenis. Dalam dunia Romeo juliet, tentu kata ini menjadi ikatan emosional guna melangsungkan tali kasih sayang berdasarkan etika, adab, dan moral yang di harapkan tidak menyerupai perjalanan kisah sosok romeo Juliet itu seutuhnya apalagi tentang perjalanan kisah hari "Valentine's" Melainkan bagaimana mengekspresikan kekeluargaan antara sesama. 

Kadang pula kata "Ayang" Dijadikan candaan untuk mengisi stagnasi pemikiran introvert, sebagai media kata atau sebagai upaya mencairkan suasana lingkungan dalam lingkup area tertentu secara khusus. Misalkan sebuah Kejadian Suatu Ketika kira-kira kronologis nya begini: 

"Em👨: Kamu gak makan,? Itu sudah saya sendokkan ke piring-mu langsung. Terlalu sedikit yaa? Saya tambahin, atau kamu lagi gak enak badan!? Atau jangan-jangan Kurang Lauk dan Sayurnya!? Gampang nanti saya siapkan sesuai porsi yang kamu inginkan. Lalu langsung di makan yaa!? 
EL👨‍🦱: tidak. Tidak! Ini sudah cukup, dan mmm malah ini kebanyakan kok! Aku sudah gendut dan tinggi jadi tidak perlu di puji apalagi di bujuk "Makan yang banyak supaya cepat gede"!. 
Em👨: Ya udah. Tapi tolong di makan dong! Nunggu apalagi? Yang lain sudah pada mulai bahkan si UM sdh hampir Habis itu. Kamu malah bengong! pegang Handphone! Piring-mu di tonton-tonton
UM🧒: eitss..! tolong Anda Em! don't mention to me! emang saya Peduli tentang nya!? Nih Liat Muka Gue! Apa ada kepedulian!? 

Sembari ia angkat suara diiringi kekekan wkwkwk. 

EL👨‍🦱: Nggih. Bentar lagi... 
Em👨: sebenarnya kamu sedang nunggu apa, Sih! 
EL👨‍🦱: Okay. Saya makan ini, Barusan baca message. Sudah di suruh 'Ayang'. 
Em👨: Astaga!!! Jadi Harus nunggu 'Ayang' Dulu baru Melahap dengan sigap. 
EL👨‍🦱: hehehe... Ampure. "
..... 
Hal-hal seperti inilah yang sedang terjadi dilingkungan remaja dan beberapa dari kalangan muda. Sebagian dari kebanyakan mereka juga mencoba memelintir dengan candaan bersosial dan sebagiannya digunakan menjadi bagian dari bentuk keseriusan atas dasar menjalin hubungan kekeluargaan guna mengokohkan tali silaturahmi pada satu trah keluarga. 
Semoga saja kata 'Ayang' dan 'Ayang' ini mampu menyatukan, mampu menjemput kebaikan dan segera Mengkolaborasi nya kedalam kekuatan yang hakiki, menjalankan sesuai adab dan akhlak serta membumikan kedamaian melalui the power of "Ayang"... 

#PenaDeddet

Belum ada Komentar untuk "The Power of Ayang', 'Ayang'!!! "

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel